RMS Titanic adalah sebuah
kapal penumpang super Britania Raya yang tenggelam di
Samudra Atlantik Utara pada tanggal 15 April 1912 setelah menabrak sebuah
gunung es pada
pelayaran perdananya dari
Southampton, Inggris ke
New York City.
Tenggelamnya Titanic mengakibatkan kematian sebanyak 1.514 orang dalam salah satu
bencana maritim masa damai paling mematikan sepanjang sejarah. Titanic merupakan kapal terbesar di dunia pada pelayaran perdananya. Satu dari tiga
kapal samudra kelas Olympic dioperasikan oleh
White Star Line. Kapal ini dibangun pada 1909 sampai 1911 oleh galangan kapal
Harland and Wolff di
Belfast. Kapal ini sanggup mengangkut 2.224 penumpang.
Para penumpangnya terdiri dari sejumlah orang terkaya di dunia, serta lebih dari seribu emigran dari
Britania Raya,
Irlandia,
Skandinavia,
dan negara-negara lain yang mencari kehidupan baru di Amerika Utara.
Kapal ini dirancang senyaman dan semewah mungkin, dengan dilengkapi
gimnasium, kolam renang, perpustakaan, restoran kelas atas dan kabin
mewah. Kapal ini juga memiliki telegraf nirkabel mutakhir yang
dioperasikan untuk keperluan penumpang dan operasional kapal. Meski
Titanic mempunyai perlengkapan keamanan yang maju seperti kompartemen
kedap air dan pintu kedap air yang bisa dioperasikan dari jarak jauh,
kapal tersebut tidak memiliki sekoci yang cukup untuk menampung seluruh
penumpang kapal. Karena regulasi keamanan laut yang sudah kuno, Titanic
hanya mengangkut sekoci yang hanya mampu menampung 1.178 penumpang –
sepertiga dari total penumpang dan awak kapalnya.
Setelah meninggalkan Southampton pada 10 April 1912,
Titanic berhenti di
Cherbourg,
Perancis dan Queenstown (sekarang
Cobh),
Irlandia sebelum berlayar ke barat menuju New York. Pada tanggal 14
April 1912, empat hari pasca pelayaran, tepatnya 375 mil di selatan
Newfoundland, kapal menabrak sebuah gunung es pukul 23:40 (waktu kapal;
UTC-3). Tabrakan agak menggesek ini mengakibatkan pelat lambung
Titanic melengkung ke dalam di sejumlah tempat di
sisi kanan kapal
dan mengoyak lima dari enam belas kompartemen kedap airnya. Selama dua
setengah jam selanjutnya, kapal perlahan terisi air dan tenggelam. Para
penumpang dan sejumlah awak kapal diungsikan ke dalam sekoci, kebanyakan
sudah diluncurkan dalam keadaan setengah penuh. Banyak pria dalam
jumlah yang tidak sepadan – hampir 90% di Kelas Dua - ditinggalkan
karena para petugas yang memuat sekoci mematuhi protokol
"wanita dan anak-anak dahulu". Tepat sebelum pukul 2:20,
Titanic patah dan haluannya tenggelam bersama seribu penumpang di dalamnya. Orang-orang di air meninggal dalam hitungan menit akibat
hipotermia karena bersentuhan dengan samudra yang sangat dingin. 710 penumpang selamat diangkat dari sekoci oleh
RMS Carpathia beberapa jam kemudian.
Musibah ini ditanggapi dengan keterkejutan dan kemarahan dunia atas
jumlah korban yang besar dan kegagalan regulasi dan operasi yang
terjadi. Penyelidikan publik di Britania dan Amerika Serikat mendorong
perbaikan besar-besaran keselamatan laut. Salah satu warisan terpenting dari bencana ini adalah penetapan
Konvensi Internasional untuk Keselamatan Penumpang di Laut
(SOLAS), yang masih mengatur keselamatan laut sampai sekarang. Banyak
korban selamat kehilangan seluruh kekayaan dan harta benda mereka dan
menjadi miskin; banyak keluarga, terutama keluarga awak kapal dari
Southampton, kehilangan sumber nafkah utamanya. Mereka semua dibantu
oleh banjirnya simpati dan sumbangan amal dari masyarakat. Beberapa pria
yang selamat, terutama kepala White Star Line,
J. Bruce Ismay, dicela sebagai pengecut karena meninggalkan kapal ketika penumpang lain masih di atasnya, dan mereka diasingkan oleh publik.
Bangkai Titanic masih ada di dasar laut, perlahan hancur di kedalaman 12.415
kaki (3,784
m).
Sejak ditemukan kembali pada tahun 1985, ribuan artefak diangkat dari
dasar laut dan dipamerkan di berbagai museum di seluruh dunia.
Titanic telah menjadi salah satu kapal ternama dalam sejarah. Keberadaannya terus diingat oleh sejumlah
buku, film, pameran, dan tugu peringatan.
Latar belakang
Dibangun di
Belfast,
Irlandia,
Kerajaan Bersatu,
RMS Titanic adalah kapal kedua dari tiga
kapal samudra kelas Olympic - sisanya adalah
RMS Olympic dan
HMHS Britannic (aslinya bernama
Gigantic). Ketiganya adalah kapal terbesar dalam armada perusahaan perkapalan Britania
White Star Line, yang terdiri dari 29 kapal uap dan tender pada tahun 1912. Tiga kapal tersebut lahir dalam sebuah perbincangan pada pertengahan 1907 antara kepala White Star Line,
J. Bruce Ismay, dan hartawan Amerika Serikat
J. Pierpont Morgan, yang mengendalikan perusahaan induk White Star Line,
International Mercantile Marine Co. White Star Line menghadapi tantangan yang semakin menjadi-jadi dari pesaing utamanya,
Cunard, yang telah meluncurkan
Lusitania dan
Mauretania – kapal penumpang tercepat yang beroperasi saat itu – dan perusahaan pelayaran Jerman,
Hamburg America dan
Norddeutscher Lloyd.
Ismay memilih untuk bersaing dalam hal ukuran ketimbang kecepatan dan
berencana meluncurkan jajaran kapal baru yang ukurannya lebih besar
daripada sebelumnya serta dibuat senyaman dan semewah mungkin.
Jajaran kapal ini dibangun oleh galangan kapal Belfast,
Harland and Wolff, yang sudah punya hubungan lama dengan White Star Line sejak 1867.
Harland and Wolff diberikan keuntungan besar dalam merancang kapal
untuk White Star Line; pendekatan seperti biasa ditujukan kepada White
Star Line untuk membuat sketsa konsep umum yang akan dipakai dan diubah
menjadi desain kapal oleh Harland and Wolff. Pertimbangan biaya relatif
rendah di agendanya dan Harland and Wolff diminta mengeluarkan biaya
atas segala kebutuhan kapal, ditambah margin keuntungan lima persen. Untuk kapal kelas
Olympic,
biaya sebesar £3 juta untuk dua kapal pertama disetujui disertai
beberapa "ekstra atas kontrak" dan bayaran lima persen seperti biasa.
Harland and Wolff menempatkan para desainer utamanya dalam perancangan kapal kelas
Olympic. Perancangan ini diawasi oleh
Lord Pirrie, direktur Harland and Wolff dan White Star Line;
arsitek laut Thomas Andrews,
direktur pelaksana departemen desain Harland and Wolff; Edward Wilding,
wakil Andrews dan bertanggung jawab atas penghitungan desain kapal,
keseimbangan dan kerapiannya; dan
Alexander Carlisle, kepala juru gambar kapal dan manajer umum. Tugas Carlisle adalah dekorasi, perlengkapan dan semua pengaturan umum, termasuk penerapan desain
derek sekoci yang efisien.
[a]
Pada tanggal 29 Juli 1908, Harland and Wolff mempresentasikan
sketsanya kepada J. Bruce Ismay dan para eksekutif White Star Line
lainnya. Ismay menyetujui desain tersebut dan menandatangani tiga "surat
perjanjian" dua hari kemudian yang mengizinkan pembangunan kapal. Saat itu, kapal pertama tersebut – yang kelak menjadi
Olympic
– belum mempunyai nama, tetapi hanya ditandai sebagai "Number 400",
karena kapal ini adalah kapal ke-400 yang dibangun Harland and Wolff.
Titanic didasarkan pada versi revisi desain yang sama dan diberi nomor 401.
Dimensi dan pengaturan
Rancangan sisi RMS
Titanic
Titanic memiliki panjang 882
kaki 9 inches (269.1
m) dengan lebar maksimum 92
kaki 6 inches (28.2
m). Tinggi keseluruhannya, diukur dari dasar lunas ke puncak anjungan, adalah 104
kaki (32
m). Kapal ini berbobot 46.328
ton daftar bruto dan dengan daya muat 34
kaki 7 inches (10.5
m), kapal ini berbobot total 52.310 ton.
Ketiga kapal kelas
Olympic mempunyai sebelas geladak (tidak
termasuk kantor perwira di bagian atas), delapan di antaranya digunakan
penumpang. Dari atas ke bawah, geladak-geladak tersebut adalah:
Diagram irisan bagian tengah
Titanic
- Boat Deck, tempat sekoci dileatkkan. Pada jam-jam pertama 15 April 1912, dari sinilah sekoci Titanic
diturunkan ke Samudra Atlantik Utara. Anjungan dan ruang kemudi ada di
ujung depan, di depan kantor kapten dan perwira. Anjungan terletak 8 kaki (2.4 m)
di atas geladak, menjorok ke samping agar kapal dapat diawasi ketika
merapat. Ruang kemudi terletak tepat di belakang dan atas anjungan.
Pintu masuk ke Grand Staircase
Kelas Satu dan gimnasium ada di tengah kapal bersama atap lounge Kelas
Satu, sementar di belakang geladak adalah atap ruang cerutu Kelas Satu
dan pintu masuk Kelas Dua yang relatif sederhana. Geladak berlapis kayu
ini terbagi menjadi empat teras terpisah; secara berurutan untuk
perwira, penumpang Kelas Satu, teknisi dan penumpang Kelas Dua. Sekoci
berjajar di sisi geladak, melompati wilayah Kelas Satu agar pemandangan
dari sana tidak terganggu.
- A Deck, juga disebut Promenade Deck, membentang sepanjang keseluruhan panjang struktur super ini, yaitu 546 kaki (166 m).
Geladak ini dirancang khusus untuk penumpang Kelas Satu dan berisikan
kabin Kelas Satu, lounge Kelas Satu, ruang cerutu, ruang baca tulis dan
Palm Court.
- B Deck, atau Bridge Deck, adalah geladak atas penopang
berat sekaligus tingkat teratas lambung kapal. Sebagian besar akomodasi
penumpang Kelas Satu dibangun di sini, dilengkapi enam kamar istana
(kabin) yang memiliki terasnya sendiri. Di Titanic, A La Carte
Restaurant dan Café Parisien menyediakan fasilitas makan mewah bagi
penumpang Kelas Satu. Keduanya dioperasikan oleh koki dan staf
subkontrak; semuanya tewas dalam bencana. Ruang cerutu Kelas Dua dan
aula pintu masuk ada di geladak ini. Geladak haluan kapal yang terangkat
berada di depan Bridge Deck dan terdiri dari palka Nomor 1 (palka utama
menuju ruang kargo), berbagai macam mesin dan jangkar. Geladak ini
tertutup bagi penumpang; adegan "terbang" yang terkenal di haluan kapal
pada film Titanic tahun 1997 tidak akan mungkin terjadi di dunia nyata. Buritan Bridge Deck adalah Poop Deck yang dinaikkan, dengan panjang 106 kaki (32 m), digunakan sebagai teras untuk penumpang Kelas Tiga. Di sanalah tempat bertahan terakhir bagi banyak penumpang dan awak Titanic ketika kapal tenggelam. Geladak haluan dan Poop Deck terpisah dari Bridge Deck melalui dek turun.
- C Deck, atau Shelter Deck, adalah geladak tertinggi
yang merentang langsung dari ujung haluan ke ujung buritan kapal. C Deck
terdiri dari dua geladak turun; geladak buritan adalah bagian dari
tempat jalan-jalan Kelas Tiga. Kabin awak terletak di bawah geladak
haluan dan ruang umum Kelas Tiga terletak di bawah Poop Deck. Di antara
keduanya adalah sebagian besar kabin Kelas Satu dan perpustakaan Kelas
Dua.
- D Deck, atau Saloon Deck, didmonasi oleh tiga ruang
umum berukuran besar – Ruang Resepsi Kelas Satu, Ruang Makan Kelas Satu,
dan Ruang Makan Kelas Dua. Sebuah ruang terbuka juga dibangun untuk
penumpang Kelas Tiga. Para penumpang Kelas Satu, Dua, dan Tiga memiliki
kabin di geladak ini, dilengkapi kamar tidur untuk juru api yang
terletak di haluan. Geladak ini adalah tingkat tertinggi yang dicapai
sekat kedap air kapal (meski hanya delapan dari lima belas sekat).
- E Deck, atau Upper Deck, lebih dimanfaatkan untuk
akomodasi penumpang untuk semua kelas ditambah kamar tidur koki, pelaut,
pelayan, dan penghias. Di sepanjang geladak ini, terdapat sebuah lorong
panjang yang dijuluki Scotland Road oleh para awak, merujuk pada nama sebuah jalan terkenal di Liverpool.
- F Deck, atau Middle Deck, adalah geladak lengkap yang
terakhir dan didominasi akomodasi untuk penumpang Kelas Tiga. Ada pula
beberapa kabin Kelas Dua dan akomodasi awak. Ruang makan Kelas Tiga
terletak di sini, begitu pula kolam renang dan pemandian Turki.
- G Deck, atau Lower Deck, adalah geladak lengkap
terendah yang mengangkut penumpang. dan memiliki jendela kapal paling
bawah, tepat di atas garis air. Lapangan squash terletak di sini bersama
kantor pos berjalan, tempat para petugas surat menyortir surat dan
parsel untuk dikirimkan setelah kapal merapat di dermaga. Bahan pangan
juga disimpan di sini. Di beberapa tempat, geladak ini ditembus oleh
geladak orlop (setengah) di atas ruang ketel, mesin, dan turbin.
- Orlop Decks dan Tank Top berada di tingkat terendah
kapal, di bawah garis air. Geladak orlop dipakai untuk ruang kargo,
sementara Tank Top – bagian bawah terdalam di lambung kapal – memiliki
ruang tempat ketel, turbin, dan generator listik kapal dipasang. Bagian
kapal yang satu ini didominasi oleh ruang mesin dan ketel, tempat-tempat
yang tidak biasa dilihat penumpang. Kedua ruang ini terhubung dengan
tingkat teratas di kapal melalui serangkaian tangga; dua tangga spiral
dekat haluan memberi akses ke D Deck.
Fitur
Mesin, ketel, dan generator
Pemandangan sisi kiri belakang
Olympic yang menampilkan kemudi dan baling-baling tengah dan samping kiri . Bandingkan ukurannya dengan pria di bawah gambar.
Titanic dilengkapi dengan tiga mesin - dua
mesin uap tiga ekspansi empat
silinder bolak-balik dan satu
turbin Parsons bertekanan rendah di tengah - yang masing-masing mendorong satu
baling-baling. Dua mesin bolak-balik memiliki kekuatan gabungan sebesar 30.000hp dan sisa 16.000hp berasal dari turbin. White Star Line sebelumnya berhasil memakai kombinasi mesin yang sama pada kapal
SS Laurentic.
Gabungan ini memberikan kombinasi performa dan kecepatan yang bagus;
mesin bolak-balik sendiri tidak cukup kuat untuk mendorong sebuah kapal
kelas
Olympic pada kecepatan yang diinginkan, sementara turbin
lumayan kuat namun mengakibatkan getaran yang tidak nyaman, sebuah
masalah yang memengaruhi kapal-kapal serba turbin milik Cunard,
Lusitania dan
Mauretania.
Dengan menggabungkan mesin bolak-balik dengan sebuah turbin, pemakaian
bahan bakar dapat dikurangi dan tenaga motif meningkat dengan jumlah uap
yang sama.
Dua mesin bolak-balik berukuran raksasa, masing-masing sepanjang 63
kaki (19
m) dan berbobot 720 ton. Pelat dasarnya sendiri berbobot 195 ton.
Kedua mesin didorong tenaga uap yang dihasilkan 29 ketel, 24 di
antaranya berujung ganda dan 5 berujung tunggal, yang terdiri dari 159
tungku secara keseluruhan. Ketel-ketel tersebut berdiameter 15
kaki 9 inches (4.8
m) dan sepanjang 20
kaki (6.1
m), masing-masing berbobot 91,5 ton dan mampu menampung 48,5 ton air.
Ketel ini dipanaskan oleh pembakaran batu bara, 6.611 ton di antaranya ditampung di bunker
Titanic
dan 1.092 ton sisanya disimpan di Hold 3. Tungku-tungku tersebut
membutuhkan lebih dari 600 ton batu bara sehari yang disodok ke dalam
menggunakan tangan, sehingga membutuhkan tenaga 176 juru api selama 24
jam. 100 ton abu per hari dibuang dengan melepaskannya ke laut. Pekerjaan seperti ini tampak keras, kotor, dan berbahaya, meski digaji relatif besar, ada tingkat bunuh diri yang tinggi di antara para juru api yang menjalaninya.
Uap buangan yang meninggalkan mesin bolak-balik dimasukkan ke turbin
di buritan. Dari sana, uap diteruskan ke kondensator sehingga bisa
diembunkan menjadi air dan dipakai lagi.
Mesin-mesin terpasang langsung dengan tangkai panjang yang
mengendalikan baling-baling. Ada tiga baling-baling, satu untuk setiap
mesin; baling-baling terluar (atau samping) adalah yang terbesar,
masing-masing terdiri dari tiga bilah aloi mangan-perunggu dengan
diameter total 235
kaki (72
m). Baling-baling tengah berdiameter 17
kaki (5.2
m), dapat dihentikan, namun tidak dapat dimundurkan.
Pembangkit listrik
Titanic mampu menghasilkan lebih banyak listrik ketimbang satu pembangkit listrik kota pada masa itu.
Buritan mesin turbin terisi oleh empat generator listrik tenaga uap
400kW yang digunakan untuk menyediakan tenaga listrik kapal, plus dua
generator pembantu 30 kW untuk keperluan darurat. Tempatnya ada di belakang kapal, sehingga masih sempat beroperasi sampai menit-menit terakhir sebelum kapal tenggelam.
Fasilitas teknis
Kemudi
Titanic lumayan besar – setinggi 78
kaki 8 inches (24.0
m) dan sepanjang 15
kaki 3 inches (4.6
m), berbobot lebih dari 100 ton – sehingga dibutuhkan
mesin kemudi
untuk menggerakkannya. Dua mesin kemudi berkekuatan uap dipasang meski
hanya satu yang dipakai, sementara satu lagi sebagai cadangan. Keduanya
terhubung dengan
tangkai kemudi pendek melalui per keras untuk mengisolasi mesin kemudi dari kejutan apapun akibat laut keras atau perubahan arah yang cepat. Sebagai pilihan terakhir, tangkai kemudi dapat dipindahkan dengan tali yang terhubung dengan dua
putaran jangkar uap.
Putaran jangkar ini juga digunakan untuk menaikkan dan menurunkan lima
jangkar kapal (satu di kiri, satu kanan, satu tengah, dan dua jangkar
lengkung).
Kapal ini memiliki sistem pengaliran airnya sendiri, yang mampu
memanaskan dan memompa air ke seluruh kapal melalui jaringan pipa dan
katup yang rumit. Suplai air utama dibawa ke kapal ketika
Titanic
masih di pelabuhan, tetapi dalam keadaan darurat pun kapal mampu
menyuling air tawar dari laut, meski ini bukan proses langsung karena
saluran distilasi mudah tersumbat endapan garam. Serangkaian saluran
terisolasi mengangkut udara hangat ke seluruh kapal yang berasal dari
kipas listrik, dan kabin Kelas Satu dilengkapi pemanas listriknya
sendiri.
Titanic dilengkapi dengan
telegraf nirkabel jeda percik
berkekuatan 1,5 kW yang dipasang di ruang radio Geladak Anjungan. Satu
set dipakai untuk mengirim pesan dan satu lagi, di bilik kedap suara,
untuk menerima pesan. Sinyal dipancarkan melalui dua kabel paralel yang
dibentangkan di antara menara-menara kapal, 50
kaki (15
m) di atas cerobong untuk menghindari asap korosifnya. Sistem ini adalah salah satu yang tercanggih di dunia dengan jangkauan sampai 1.000 mil. Sistem ini dimiliki dan dioperasikan oleh
Marconi Company,
bukan White Star Line, dan hanya diperuntukkan kepada penumpang, bukan
operasi kapal. Fungsi dua operator nirkabel – keduanya karyawan Marconi –
adalah mengoperasikan layanan pengiriman dan penerimaan telegram
nirkabel 24 jam untuk penumpang. Mereka juga meneruskan pesan
profesional kapal seperti laporan cuaca dan peringatan es.
Fasilitas penumpang
Fasilitas penumpang di
Titanic dibangun semewah mungkin. Kapal
ini dapat menampung 739 penumpang Kelas Satu, 674 Kelas Dua dan 1.026
Kelas Tiga. Para awaknya berjumlah sekitar 900 orang; secara
keseluruhan, kapal ini dapat menampung 3.339 orang. Desain interiornya
jauh berbeda dari kapal-kapal penumpang lainnya, yang umumnya didekorasi
dengan gaya
rumah puri atau
rumah pedesaan Inggris.
Titanic dirancang dengan gaya yang lebih ringan seperti hotel-hotel kontemporer kelas atas –
Ritz Hotel menjadi rujukannya – dengan kabin Kelas Satu dibangun dengan
gaya Kekaisaran. Berabgai gaya dekoratif lain, mulai dari
Renaisans sampai
gaya Victoria,
dipakai untuk mendekorasi kabin dan ruang umum di kawasan Kelas Satu
dan Dua. Tujuannya adalah memberi kesan bahwa penumpang berada di hotel
terapung alih-alih kapal penumpang; sebagaimana kesaksian seorang
penumpang, ketika memasuki interior kapal, seseorang akan merasa
"kehilangan perasaan bahwa kita berada di atas kapal, dan seolah-olah
memasuki aula rumah besar di pesisir pantai."
Penumpang dapat memanfaatkan sistem telepon kapal, perpustakaan pinjam buku, dan salon besar. Kelas Satu dilengkapi kolam renang, gimnasium, lapangan
squash,
pemandian Turki,
pemandian listrik dan kafe teras.
Ruang umum Kelas Satu dilengkapi panel kayu ukiran, furnitur mahal dan
dekorasi lainnya, sementara ruang umum Kelas Tiga dilengkapi panel kayu
pinus dan furnitur jati.
[42] Café Parisien terletak di teras terbuka yang dilengkapi dekorasi trellis dan menawarkan
haute cuisine Perancis terbaik untuk penumpang Kelas Satu.
[43]
Fasilitas penumpang Kelas Satu Titanic
Gimnasium Titanic di Boat Deck, yang dilengkapi dengan mesin-mesin olahraga terkini.
Grand Staircase Titanic yang ternama dan memberikan akses antara Boat Deck dan D Deck.
Restoran A La Carte di B Deck, dioperasikan sebagai konsesi oleh seorang koki kelahiran Italia, Gaspare Gatti.
Penumpang Kelas Tiga tidak diperlakukan semewah Kelas Satu, tetapi
kondisi mereka masih lebih baik daripada penumpang Kelas Tiga di kapal
lain pada masa itu. Mereka ditempatkan di kabin tidur berkapasitas dua
dan sepuluh orang, dengan 164 kamar terbuka tambahan untuk para pemuda
di G Deck.
Dalam hal fasilitas mandi dan cuci, mereka lebih terbatas ketimbang
penumpang Kelas Satu atau Dua. Mereka hanya diberi dua kamar mandi, satu
untuk pria dan satu lagi wanita, untuk keseluruhan Kelas Tiga. Mereka
harus mencuci pakaian mereka sendiri di ruang cuci yang dilengkapi bak
besi, sementara penumpang Kelas Satu dan Dua dapat memakai jasa binatu
kapal.
Ada pula batasan terhadap kawasan kapal yang boleh dimasuki; ketiga
kelas penumpang terpisah satu sama lain, dan meski teorinya penumpang
kelas teratas dapat mengunjungi kawasan kelas terendah, kenyataannya
mereka tidak diperbolehkan melakukannya demi menghormati kebiasaan
sosial pada masa itu.
Pemisahan kelas terlihat pada perlengkapan kapal, toilet Kelas Tiga
terbuat dari besi, sementara Kelas Dua porselen dan Kelas Satu marmer.
Fasilitas kenyamanan disediakan untuk ketiga kelas untuk menghabiskan
waktu. Selain memanfaatkan fasilitas dalam ruangan seperti
perpustakaan, ruang cerutu dan gimnasium, penumpang juga perlu
bersosialisasi di dek terbuka, jalan-jalan atau menenangkan diri di
kursi dek atau kursi kayu. Sebuah daftar penumpang diterbitkan sebelum
pelayaran untuk menginformasikan kepada publik mana saja anggota
keluarga berpengaruh yang naik kapal, dan sudah umum bagi ibu-ibu yang
ambisius untuk memanfaatkan daftar ini untuk mengenali orang-orang kaya
yang dapat diperkenalkan kepada anaknya sepanjang pelayaran.
Salah satu fitur paling menarik di
Titanic adalah tangga Kelas Satunya, yang dikenal sebagai
Grand Staircase
atau Grand Stairway. Tangga ini menuruni lima dek kapal, dari Boat Deck
ke Reception Room yang bergabung dengan First Class Dining Saloon di D
Deck.
Ruangan ini beratapkan kubah besi tempa dan kaca yang menyalurkan
cahaya alami. Setiap ujung bawah tangga mengarah ke aula pintu masuk
yang diterangi lampu berlapiskan emas.
Di ujung atas tangga terdapat panel kayu ukiran besar berisikan jam
ditambah kata-kata "Honour and Glory Crowning Time" yang mengitari jam. Grand Staircase hancur dalam peristiwa tenggelamnya
Titanic dan sekarang menjadi lubang di kapal yang dipakai para penjelajah modern untuk mengakses dek bawah. Selama perekaman
Titanic
karya James Cameron pada tahun 1997, replika Grand Staircase-nya
tercabut dari fondasinya akibat desakan air yang masuk dengan deras di
studio. Diasumsikan bahwa pada peristiwa aslinya, seluruh Grand
Staircase terangkat ke atas melalui kubah ruangan.
Surat dan kargo
Meski
Titanic adalah kapal penumpang, kapal ini juga mengangkut sejumlah kargo. Gelar
Royal Mail Ship-nya menandakan bahwa
Titanic mengangkut surat di bawah kontrak dengan
Royal Mail (dan juga
United States Post Office Department). 26.800 kaki kubik (760 m
3)
ruang kargonya dikhususkan untuk penyimpanan surat, parsel dan mata
uang (emas lantak, koin, dan barang berharga lain). Sea Post Office di G
Deck dikelola oleh lima petugas pos, tiga dari Amerika Serikat dan dua
dari Britania Raya, yang bekerja tiga belas jam sehari, tujuh hari
seminggu, menyortir hingga 60.000 surat/barang setiap harinya.
Penumpang kapal turut membawa bagasi dalam jumlah besar; 19.455 kaki kubik (550.9 m
3)
ruang kargo dipenuhi bagasi kelas satu dan dua. Selain itu, ada
berbagai macam kargo reguler, mulai dari furnitur hingga bahan pangan
dan bahkan mobil motor. Meski muncul beberapa mitos bahwa kargo pada pelayaran perdana
Titanic sangat melimpah; tidak ditemukan emas,
mineral eksotis atau intan, dan salah satu barang terkenal yang terjebak di bangkai kapal, salinan
Rubaiyat of Omar Khayyam, hanya bernilai £405 (£29.717 hari ini) – cuma barang-barang legenda.
Titanic
dilengkapi dengan delapan takal listrik, empat derek listrik dan tiga
derek uap untuk mengangkat kargo dan bagasi ke dalam dan luar ruang
kargo. Diperkirakan bahwa kapal ini memakai 415 ton batu bara di
Southampton untuk menghasilkan uap untuk mengoperasikan derek kargo,
penghangat dan penerangan.
[55]
Sekoci
Sebuah sekoci lipat dengan sisi kanvasnya
Titanic mengangkut 20 sekoci secara keseluruhan: 14 sekoci
kayu standar Harland and Wolff dengan kapasitas masing-masing 65 orang
dan empat sekoci "lipat" Englehardt (diberi tanda A sampai D) dengan
kapasitas masing-masing 47 orang. Selain itu, kapal ini memiliki dua
kapal dayung dengan kapasitas masing-masing 40 orang.
[b] Semua sekoci disimpan rapat di Boat Deck dan, kecuali sekoci lipat A dan B, terhubung dengan
derek kapal
melalui tali. Sekoci di sisi kanan diberi nomor ganjil 1–15 dari haluan
ke buritan, sementara sekoci di sisi kiri diberi nomor genap 2–16 dari
haluan ke buritan. Kedua kapal dayung dibiarkan berayun dan tergantung
di derek agar dapat segera dipakai, sementara sekoci lipat C dan D
disimpan di Boat Deck (terhubung dengan derek) langsung di dalam
sekoci 1 dan 2. A dan B disimpan di atap kantor perwira, di
masing-masing sisi cerobong nomor 1. Tidak ada derek untuk menurunkannya
dan bobotnya akan sangat menantang ketika diluncurkan.
Setiap sekoci berisikan makanan, air, selimut, dan pelampung cadangan.
Tali penyelamat di sisi sekoci memungkinkan penumpang menyelamatkan
korban lainnya dari air jika perlu.
Titanic memiliki 16 set derek kapal, masing-masing mampu menangani 4 sekoci. Ini memberikan
Titanic kemampuan untuk mengangkut 64 sekoci kayu
yang muat untuk 4.000 orang – melebihi kapasitas kapal aslinya.
Sayangnya, White Star Line memutuskan agar 16 sekoci kayu dan empat
sekoci lipat yang diangkut, yang mampu menampung 1.178 orang, sepertiga
kapasitas total
Titanic. Pada waktu itu, regulasi Board of Trade
mensyaratkan kapal-kapal Britania berbobot lebih dari 10.000 ton membawa
16 sekoci dengan kapasitas 990 penumpang. Meski begitu, White Star Line menyediakan akomodasi sekoci lebih banyak daripada yang disyaratkan secara hukum.
[c]
Pembangunan dan persiapan
Konstruksi, peluncuran dan pemasangan
Titanic sebelum peluncurannya.
Ukuran
Titanic dan kapal-kapal saudaranya yang raksasa
memberikan tantangan teknik tersendiri bagi Harland and Wolff; belum
pernah ada pembangun kapal yang berhasil membangun kapal sebesar ini.
Kapal-kapal ini dibangun di Queen's Island, sekarang bernama
Titanic Quarter, di
Belfast Harbour. Harland and Wolff harus menghancurkan tiga seluncur kapal dan membangun dua
seluncur baru, yang merupakan seluncur terbesar yang pernah dibangun pada masa itu, untuk mengakomodasi kapal-kapal raksasa.
Pembangunannya difasilitasi oleh alat peluncur raksasa yang dibangun oleh
Sir William Arrol & Co., sebuah firma asal Skotlandia yang pernah membangun
Forth Bridge dan
Tower Bridge London. Arrol Gantry berdiri setinggi 228
kaki (69
m), dengan lebar 270
kaki (82
m) dan panjang 840
kaki (260
m),
serta berbobot lebih dari 6.000 ton. Alat peluncur ini terdiri dari
beberapa takal bergerak. Sebuah takal apung yang mampu mengangkut bobot
200 ton didatangkan langsung dari Jerman.
Pembangunan
Titanic dan
Olympic dilakukan secara bersamaan dan terpisah, dengan lambung
Olympic pertama diletakkan pada 16 Desember 1908 dan lambung
Titanic pada tanggal 31 Maret 1909. Kedua kapal dibangun selama 26 bulan dan melalui proses konstruksi yang sama. Kapal-kapal tersebut dirancang sebagai sebuah
box girder apung raksasa, dengan
lunasnya
yang berperan sebagai tulang punggung dan kerangka lambungnya sebagai
tulang dada. Di dasar kapal, sebuah penopang ganda sedalam 5
kaki 3 inches (1.6
m) menopang 300 kerangka, masing-masing terpisah sejauh 24 inci (61 cm) dan 36 inci (91 cm) dan sepanjang 66
kaki (20
m). Penopang ini berakhir di dek anjungan (B Deck) dan dilapisi pelat baja yang membentuk kulit terluar kapal.
2.000 pelat lambungnya terdiri dari bagian-bagian baja gulung, kebanyakan selebar 6
kaki (1.8
m) dan sepanjang 30
kaki (9.1
m) dan berbobot antara 2,5 dan 3 ton. Ketebalannya bervariasi mulai 15 inci (38 cm) hingga 1 inci (2.5 cm). Pelat-pelat tersebut dipasang dengan gaya
klinker
(tumpang tindih) dari lunas sampai lambungnya. Di atas bagian itu,
pelat dipasang dengan gaya "luar dalam", yang berarti pemasangan pelat
pelatnya
dipasang berbentuk pita (disebut "pelat lurus dalam") dengan celah yang
ditutup oleh "pelat lurus luar", sehingga tumpang tindih di
pinggirannya.
Pengelasan baja masih terdengar baru sehingga struktur ini perlu digabung dengan lebih dari tiga juta
paku sumbat
besi dan baja yang keseluruhannya berbobot lebih dari 1.200 ton. Paku
sumbat ini dipasang menggunakan mesin hidrolik atau dipaku dengan
tangan.
Pemandangan
Titanic di dermaga pemasangan setelah peluncurannya; tahap akhir konstruksi dan pemasangannya dilakukan di sini.
Interior kapal kelas
Olympic dibagi menjadi enam belas
kompartemen utama yang dibagi menjadi lima belas sekat yang membentang
di atas garis air. Sebelas pintu kedap air yang menutup secara vertikal
dapat mengunci kompartemen jika terjadi keadaan darurat".
Geladak terbuka kapal terbuat dari kayu pinus dan jati, sementara
langit-langit kapal dilapisi butiran gabus bercat untuk mencegah
kondensasi. Superstruktur ini terdiri dari dua geladak, Promenade Deck dan Boat Deck, yang memiliki panjang 500
kaki (150
m).
Kedua geladak berisikan kantor perwira, gimnasium, ruang umum dan kabin
kelas satu, ditambah anjungan dan ruang kemudi. Sekoci kapal
ditempatkan di Boat Deck, dek paling atas.
Di atas geladak terdapat empat cerobong, meski hanya tiga yang
berfungsi - cerobong terakhir cuma hiasan untuk estetika saja – dan dua
menara, masing-masing setinggi 155
kaki (47
m), yang menopang derek untuk pemuatan kargo. Sebuah kabel komunikasi nirkabel dibentangkan di antara kedua menara.
Pembangunan kapal ini begitu sulit dan berbahaya. Untuk 15.000 orang yang bekerja di Harland and Wolff pada saat itu,
pencegahan keselamatan dirancang sebagus mungkin; banyak pekerjaan
berbahaya yang dilakukan tanpa peralatan keselamatan seperti topi atau
pelindung tangan pada mesin. Akibatnya, timbul korban tewas dan
luka-luka. Selama pembangunan
Titanic, tercatat 246 kasus
luka-luka, 28 di antaranya "parah", seperti lengan terluka karena mesin
atau kaki yang tertimpa bagian-bagian baja yang jatuh. Enam orang
meninggal di dalam kapal ketika sedang dibangun dan dipasang dan dua
lainnya meninggal di bengkel dan gudang galangan kapal. Tepat sebelum peluncuran, seorang pekerja tewas ketika sebilah kayu menimpanya.
Titanic diluncurkan pada pukul 12:15 tanggal 31 Mei 1911 di
hadapan Lord Pirrie, J. Pierpoint Morgan dan J. Bruce Ismay dan 100.000
penonton. 22 ton sabun dan lemak disebarkan di seluncuran untuk memudahkan peluncuran kapal ke
Sungai Lagan. Sesuai kebijakan lama White Star Line, kapal ini tidak diberi nama secara resmi maupun dibaptis dengan sampanye.
Kapal ini ditarik ke dermaga pemasangan, tempat mesin, cerobong dan
superstrukturnya dipasang dan interiornya dilengkapi selama satu tahun
selanjutnya.
Meski
Titanic tampak identik dengan kapal saudara sebelumnya,
Olympic, sejumlah perubahan dilakukan untuk membedakan kedua kapal. Perubahan yang paling mudah dikenali adalah bahwa
Titanic (dan kapal saudara selanjutnya,
Britannic)
memilikii bingkai baja dengan jendela geser di sepanjang setengah depan
teras A Deck. Jendela ini dipasang pada menit-menit terakhir atas
permintaan pribadi Bruce Ismay, dan bertujuan untuk memberi perlindungan
tambahan bagi penumpang kelas satu.
[73] Perubahan-perubahan ini menjadikan
Titanic
secara marjinal lebih berat ketimbang kapal saudaranya, dan dapat
mengklaim diri sebagai kapal terbesar yang berlayar pada masa itu.
Pekerjaan ini lebih lama daripada yang diharapkan akibat perubahan
rancangan yang diperintahkan Ismay dan penundaan sementara karena
perbaikan
Olympic, yang mengalami tabrakan pada September 1911. Jika
Titanic sudah rampung dari dulu, kapal ini nantinya mungkin tidak menabrak gunung es.
Pelayaran uji coba
Titanic meninggalkan Belfast untuk pelayaran uji cobanya pada tanggal 2 April 1912
Pelayaran uji coba
Titanic dimulai pukul 06.00 pada hari
Senin, 2 April 1912, dua hari setelah pemasangannya selesai dan delapan
hari sebelum meninggalkan Southampton untuk pelayaran perdananya. Ujicoba ini ditunda selama satu hari karena cuaca buruk, namun pada Senin pagi cuaca cerah dan sejuk.
Kapal ini mengangkut 78 juru api, tukang minyak, dan 41 awak kapal.
Tidak ada staf domestik di kapal tersebut. Perwakilan dari berbagai
perusahaan ikut dalam uji coba
Titanic, Thomas Andrews dan Edward
Wilding dari Harland and Wolff dan Harold A. Sanderson dari IMM. Bruce
Ismay dan Lord Pirrie terlalu sakit untuk hadir.
Jack Phillips dan
Harold Bride
bertugas sebagai operator radio, dan melaukan penyesuaian terhadap
alat-alat Marconi. Francis Carruthers, seorang pengawas dari Board of
Trade, juga hadir untuk melihat apakah semuanya berjalan dengan baik dan
apakah kapal ini layak mengangkut penumpang.
Pelayaran uji cobanya terdiri dari serangkaian tes terhadap karakteristik kendalinya yang pertama dilaksanakan di
Belfast Lough dan perairan terbuka
Laut Irlandia. Selama dua belas jam,
Titanic
dioperasikan dengan beragam kecepatan, kemampuan beloknya diuji dan
"berhenti mendadak" dilakukan dengan pemunduran mesin dari mode maju
penuh hingga mundur penuh, sehingga kapal ini berhenti pada jarak 850 yd
(777
m) atau 3 menit 15 detik.
Kapal ini menempuh jarak sekitar 80 mil laut (92 mi; 150 km), dengan
rata-rata 18 knot (21 mph; 33 km/jam) dan mencapai kecepatan maksimum di
bawah 21 knot (24 mph; 39 km/jam).
Ketika pulang ke Belfast pada sekitar pukul 19.00, pengawas Board of
Trade menandatangani "Agreement and Account of Voyages and Crew" yang
sah selama dua belas bulan dan menetapkan kapal ini layak berlayar di
laut. Satu jam kemudian,
Titanic kembali meninggalkan Belfast –
untuk terakhir kalinya – untuk berlayar ke Southampton sejauh 570 mil
laut (660 mi; 1,060 km). Setelah berlayar selama 28 jam, kapal tiba
sekitar tengah malam 4 April dan ditarik ke Berth 44 di pelabuhan
Southampton, bersiap untuk kedatangan penumpangnya dan seluruh awaknya.