Minggu, 23 Maret 2014

TITANIC

RMS Titanic adalah sebuah kapal penumpang super Britania Raya yang tenggelam di Samudra Atlantik Utara pada tanggal 15 April 1912 setelah menabrak sebuah gunung es pada pelayaran perdananya dari Southampton, Inggris ke New York City. Tenggelamnya Titanic mengakibatkan kematian sebanyak 1.514 orang dalam salah satu bencana maritim masa damai paling mematikan sepanjang sejarah. Titanic merupakan kapal terbesar di dunia pada pelayaran perdananya. Satu dari tiga kapal samudra kelas Olympic dioperasikan oleh White Star Line. Kapal ini dibangun pada 1909 sampai 1911 oleh galangan kapal Harland and Wolff di Belfast. Kapal ini sanggup mengangkut 2.224 penumpang.
Para penumpangnya terdiri dari sejumlah orang terkaya di dunia, serta lebih dari seribu emigran dari Britania Raya, Irlandia, Skandinavia, dan negara-negara lain yang mencari kehidupan baru di Amerika Utara. Kapal ini dirancang senyaman dan semewah mungkin, dengan dilengkapi gimnasium, kolam renang, perpustakaan, restoran kelas atas dan kabin mewah. Kapal ini juga memiliki telegraf nirkabel mutakhir yang dioperasikan untuk keperluan penumpang dan operasional kapal. Meski Titanic mempunyai perlengkapan keamanan yang maju seperti kompartemen kedap air dan pintu kedap air yang bisa dioperasikan dari jarak jauh, kapal tersebut tidak memiliki sekoci yang cukup untuk menampung seluruh penumpang kapal. Karena regulasi keamanan laut yang sudah kuno, Titanic hanya mengangkut sekoci yang hanya mampu menampung 1.178 penumpang – sepertiga dari total penumpang dan awak kapalnya.
Setelah meninggalkan Southampton pada 10 April 1912, Titanic berhenti di Cherbourg, Perancis dan Queenstown (sekarang Cobh), Irlandia sebelum berlayar ke barat menuju New York. Pada tanggal 14 April 1912, empat hari pasca pelayaran, tepatnya 375 mil di selatan Newfoundland, kapal menabrak sebuah gunung es pukul 23:40 (waktu kapal; UTC-3). Tabrakan agak menggesek ini mengakibatkan pelat lambung Titanic melengkung ke dalam di sejumlah tempat di sisi kanan kapal dan mengoyak lima dari enam belas kompartemen kedap airnya. Selama dua setengah jam selanjutnya, kapal perlahan terisi air dan tenggelam. Para penumpang dan sejumlah awak kapal diungsikan ke dalam sekoci, kebanyakan sudah diluncurkan dalam keadaan setengah penuh. Banyak pria dalam jumlah yang tidak sepadan – hampir 90% di Kelas Dua - ditinggalkan karena para petugas yang memuat sekoci mematuhi protokol "wanita dan anak-anak dahulu". Tepat sebelum pukul 2:20, Titanic patah dan haluannya tenggelam bersama seribu penumpang di dalamnya. Orang-orang di air meninggal dalam hitungan menit akibat hipotermia karena bersentuhan dengan samudra yang sangat dingin. 710 penumpang selamat diangkat dari sekoci oleh RMS Carpathia beberapa jam kemudian.
Musibah ini ditanggapi dengan keterkejutan dan kemarahan dunia atas jumlah korban yang besar dan kegagalan regulasi dan operasi yang terjadi. Penyelidikan publik di Britania dan Amerika Serikat mendorong perbaikan besar-besaran keselamatan laut. Salah satu warisan terpenting dari bencana ini adalah penetapan Konvensi Internasional untuk Keselamatan Penumpang di Laut (SOLAS), yang masih mengatur keselamatan laut sampai sekarang. Banyak korban selamat kehilangan seluruh kekayaan dan harta benda mereka dan menjadi miskin; banyak keluarga, terutama keluarga awak kapal dari Southampton, kehilangan sumber nafkah utamanya. Mereka semua dibantu oleh banjirnya simpati dan sumbangan amal dari masyarakat. Beberapa pria yang selamat, terutama kepala White Star Line, J. Bruce Ismay, dicela sebagai pengecut karena meninggalkan kapal ketika penumpang lain masih di atasnya, dan mereka diasingkan oleh publik.
Bangkai Titanic masih ada di dasar laut, perlahan hancur di kedalaman 12.415 kaki (3,784 m). Sejak ditemukan kembali pada tahun 1985, ribuan artefak diangkat dari dasar laut dan dipamerkan di berbagai museum di seluruh dunia. Titanic telah menjadi salah satu kapal ternama dalam sejarah. Keberadaannya terus diingat oleh sejumlah buku, film, pameran, dan tugu peringatan.

Latar belakang

Dibangun di Belfast, Irlandia, Kerajaan Bersatu, RMS Titanic adalah kapal kedua dari tiga kapal samudra kelas Olympic - sisanya adalah RMS Olympic dan HMHS Britannic (aslinya bernama Gigantic).[2] Ketiganya adalah kapal terbesar dalam armada perusahaan perkapalan Britania White Star Line, yang terdiri dari 29 kapal uap dan tender pada tahun 1912.[3] Tiga kapal tersebut lahir dalam sebuah perbincangan pada pertengahan 1907 antara kepala White Star Line, J. Bruce Ismay, dan hartawan Amerika Serikat J. Pierpont Morgan, yang mengendalikan perusahaan induk White Star Line, International Mercantile Marine Co. White Star Line menghadapi tantangan yang semakin menjadi-jadi dari pesaing utamanya, Cunard, yang telah meluncurkan Lusitania dan Mauretania – kapal penumpang tercepat yang beroperasi saat itu – dan perusahaan pelayaran Jerman, Hamburg America dan Norddeutscher Lloyd. Ismay memilih untuk bersaing dalam hal ukuran ketimbang kecepatan dan berencana meluncurkan jajaran kapal baru yang ukurannya lebih besar daripada sebelumnya serta dibuat senyaman dan semewah mungkin.[4]
Jajaran kapal ini dibangun oleh galangan kapal Belfast, Harland and Wolff, yang sudah punya hubungan lama dengan White Star Line sejak 1867.[5] Harland and Wolff diberikan keuntungan besar dalam merancang kapal untuk White Star Line; pendekatan seperti biasa ditujukan kepada White Star Line untuk membuat sketsa konsep umum yang akan dipakai dan diubah menjadi desain kapal oleh Harland and Wolff. Pertimbangan biaya relatif rendah di agendanya dan Harland and Wolff diminta mengeluarkan biaya atas segala kebutuhan kapal, ditambah margin keuntungan lima persen.[5] Untuk kapal kelas Olympic, biaya sebesar £3 juta untuk dua kapal pertama disetujui disertai beberapa "ekstra atas kontrak" dan bayaran lima persen seperti biasa.[6]
Harland and Wolff menempatkan para desainer utamanya dalam perancangan kapal kelas Olympic. Perancangan ini diawasi oleh Lord Pirrie, direktur Harland and Wolff dan White Star Line; arsitek laut Thomas Andrews, direktur pelaksana departemen desain Harland and Wolff; Edward Wilding, wakil Andrews dan bertanggung jawab atas penghitungan desain kapal, keseimbangan dan kerapiannya; dan Alexander Carlisle, kepala juru gambar kapal dan manajer umum.[7] Tugas Carlisle adalah dekorasi, perlengkapan dan semua pengaturan umum, termasuk penerapan desain derek sekoci yang efisien.[a]
Pada tanggal 29 Juli 1908, Harland and Wolff mempresentasikan sketsanya kepada J. Bruce Ismay dan para eksekutif White Star Line lainnya. Ismay menyetujui desain tersebut dan menandatangani tiga "surat perjanjian" dua hari kemudian yang mengizinkan pembangunan kapal.[10] Saat itu, kapal pertama tersebut – yang kelak menjadi Olympic – belum mempunyai nama, tetapi hanya ditandai sebagai "Number 400", karena kapal ini adalah kapal ke-400 yang dibangun Harland and Wolff. Titanic didasarkan pada versi revisi desain yang sama dan diberi nomor 401.[11]

Dimensi dan pengaturan

Rancangan sisi RMS Titanic
Titanic memiliki panjang 882 kaki 9 inches (269.1 m) dengan lebar maksimum 92 kaki 6 inches (28.2 m). Tinggi keseluruhannya, diukur dari dasar lunas ke puncak anjungan, adalah 104 kaki (32 m).[12] Kapal ini berbobot 46.328 ton daftar bruto dan dengan daya muat 34 kaki 7 inches (10.5 m), kapal ini berbobot total 52.310 ton.[2]
Ketiga kapal kelas Olympic mempunyai sebelas geladak (tidak termasuk kantor perwira di bagian atas), delapan di antaranya digunakan penumpang. Dari atas ke bawah, geladak-geladak tersebut adalah:
Diagram irisan bagian tengah Titanic
  • Boat Deck, tempat sekoci dileatkkan. Pada jam-jam pertama 15 April 1912, dari sinilah sekoci Titanic diturunkan ke Samudra Atlantik Utara. Anjungan dan ruang kemudi ada di ujung depan, di depan kantor kapten dan perwira. Anjungan terletak 8 kaki (2.4 m) di atas geladak, menjorok ke samping agar kapal dapat diawasi ketika merapat. Ruang kemudi terletak tepat di belakang dan atas anjungan. Pintu masuk ke Grand Staircase Kelas Satu dan gimnasium ada di tengah kapal bersama atap lounge Kelas Satu, sementar di belakang geladak adalah atap ruang cerutu Kelas Satu dan pintu masuk Kelas Dua yang relatif sederhana. Geladak berlapis kayu ini terbagi menjadi empat teras terpisah; secara berurutan untuk perwira, penumpang Kelas Satu, teknisi dan penumpang Kelas Dua. Sekoci berjajar di sisi geladak, melompati wilayah Kelas Satu agar pemandangan dari sana tidak terganggu.[13][14]
  • A Deck, juga disebut Promenade Deck, membentang sepanjang keseluruhan panjang struktur super ini, yaitu 546 kaki (166 m). Geladak ini dirancang khusus untuk penumpang Kelas Satu dan berisikan kabin Kelas Satu, lounge Kelas Satu, ruang cerutu, ruang baca tulis dan Palm Court.[13]
  • B Deck, atau Bridge Deck, adalah geladak atas penopang berat sekaligus tingkat teratas lambung kapal. Sebagian besar akomodasi penumpang Kelas Satu dibangun di sini, dilengkapi enam kamar istana (kabin) yang memiliki terasnya sendiri. Di Titanic, A La Carte Restaurant dan Café Parisien menyediakan fasilitas makan mewah bagi penumpang Kelas Satu. Keduanya dioperasikan oleh koki dan staf subkontrak; semuanya tewas dalam bencana. Ruang cerutu Kelas Dua dan aula pintu masuk ada di geladak ini. Geladak haluan kapal yang terangkat berada di depan Bridge Deck dan terdiri dari palka Nomor 1 (palka utama menuju ruang kargo), berbagai macam mesin dan jangkar. Geladak ini tertutup bagi penumpang; adegan "terbang" yang terkenal di haluan kapal pada film Titanic tahun 1997 tidak akan mungkin terjadi di dunia nyata. Buritan Bridge Deck adalah Poop Deck yang dinaikkan, dengan panjang 106 kaki (32 m), digunakan sebagai teras untuk penumpang Kelas Tiga. Di sanalah tempat bertahan terakhir bagi banyak penumpang dan awak Titanic ketika kapal tenggelam. Geladak haluan dan Poop Deck terpisah dari Bridge Deck melalui dek turun.[15][16]
  • C Deck, atau Shelter Deck, adalah geladak tertinggi yang merentang langsung dari ujung haluan ke ujung buritan kapal. C Deck terdiri dari dua geladak turun; geladak buritan adalah bagian dari tempat jalan-jalan Kelas Tiga. Kabin awak terletak di bawah geladak haluan dan ruang umum Kelas Tiga terletak di bawah Poop Deck. Di antara keduanya adalah sebagian besar kabin Kelas Satu dan perpustakaan Kelas Dua.[15][17]
  • D Deck, atau Saloon Deck, didmonasi oleh tiga ruang umum berukuran besar – Ruang Resepsi Kelas Satu, Ruang Makan Kelas Satu, dan Ruang Makan Kelas Dua. Sebuah ruang terbuka juga dibangun untuk penumpang Kelas Tiga. Para penumpang Kelas Satu, Dua, dan Tiga memiliki kabin di geladak ini, dilengkapi kamar tidur untuk juru api yang terletak di haluan. Geladak ini adalah tingkat tertinggi yang dicapai sekat kedap air kapal (meski hanya delapan dari lima belas sekat).[15][18]
  • E Deck, atau Upper Deck, lebih dimanfaatkan untuk akomodasi penumpang untuk semua kelas ditambah kamar tidur koki, pelaut, pelayan, dan penghias. Di sepanjang geladak ini, terdapat sebuah lorong panjang yang dijuluki Scotland Road oleh para awak, merujuk pada nama sebuah jalan terkenal di Liverpool.[15][19]
  • F Deck, atau Middle Deck, adalah geladak lengkap yang terakhir dan didominasi akomodasi untuk penumpang Kelas Tiga. Ada pula beberapa kabin Kelas Dua dan akomodasi awak. Ruang makan Kelas Tiga terletak di sini, begitu pula kolam renang dan pemandian Turki.[15][19]
  • G Deck, atau Lower Deck, adalah geladak lengkap terendah yang mengangkut penumpang. dan memiliki jendela kapal paling bawah, tepat di atas garis air. Lapangan squash terletak di sini bersama kantor pos berjalan, tempat para petugas surat menyortir surat dan parsel untuk dikirimkan setelah kapal merapat di dermaga. Bahan pangan juga disimpan di sini. Di beberapa tempat, geladak ini ditembus oleh geladak orlop (setengah) di atas ruang ketel, mesin, dan turbin.[15][20]
  • Orlop Decks dan Tank Top berada di tingkat terendah kapal, di bawah garis air. Geladak orlop dipakai untuk ruang kargo, sementara Tank Top – bagian bawah terdalam di lambung kapal – memiliki ruang tempat ketel, turbin, dan generator listik kapal dipasang. Bagian kapal yang satu ini didominasi oleh ruang mesin dan ketel, tempat-tempat yang tidak biasa dilihat penumpang. Kedua ruang ini terhubung dengan tingkat teratas di kapal melalui serangkaian tangga; dua tangga spiral dekat haluan memberi akses ke D Deck.[15][20]

Fitur

Mesin, ketel, dan generator

Pemandangan sisi kiri belakang Olympic yang menampilkan kemudi dan baling-baling tengah dan samping kiri [21]. Bandingkan ukurannya dengan pria di bawah gambar.
Titanic dilengkapi dengan tiga mesin - dua mesin uap tiga ekspansi empat silinder bolak-balik dan satu turbin Parsons bertekanan rendah di tengah - yang masing-masing mendorong satu baling-baling. Dua mesin bolak-balik memiliki kekuatan gabungan sebesar 30.000hp dan sisa 16.000hp berasal dari turbin.[12] White Star Line sebelumnya berhasil memakai kombinasi mesin yang sama pada kapal SS Laurentic.[22] Gabungan ini memberikan kombinasi performa dan kecepatan yang bagus; mesin bolak-balik sendiri tidak cukup kuat untuk mendorong sebuah kapal kelas Olympic pada kecepatan yang diinginkan, sementara turbin lumayan kuat namun mengakibatkan getaran yang tidak nyaman, sebuah masalah yang memengaruhi kapal-kapal serba turbin milik Cunard, Lusitania dan Mauretania.[23] Dengan menggabungkan mesin bolak-balik dengan sebuah turbin, pemakaian bahan bakar dapat dikurangi dan tenaga motif meningkat dengan jumlah uap yang sama.[24]
Dua mesin bolak-balik berukuran raksasa, masing-masing sepanjang 63 kaki (19 m) dan berbobot 720 ton. Pelat dasarnya sendiri berbobot 195 ton.[23] Kedua mesin didorong tenaga uap yang dihasilkan 29 ketel, 24 di antaranya berujung ganda dan 5 berujung tunggal, yang terdiri dari 159 tungku secara keseluruhan.[25] Ketel-ketel tersebut berdiameter 15 kaki 9 inches (4.8 m) dan sepanjang 20 kaki (6.1 m), masing-masing berbobot 91,5 ton dan mampu menampung 48,5 ton air.[26]
Ketel ini dipanaskan oleh pembakaran batu bara, 6.611 ton di antaranya ditampung di bunker Titanic dan 1.092 ton sisanya disimpan di Hold 3. Tungku-tungku tersebut membutuhkan lebih dari 600 ton batu bara sehari yang disodok ke dalam menggunakan tangan, sehingga membutuhkan tenaga 176 juru api selama 24 jam.[27] 100 ton abu per hari dibuang dengan melepaskannya ke laut.[28] Pekerjaan seperti ini tampak keras, kotor, dan berbahaya, meski digaji relatif besar,[27] ada tingkat bunuh diri yang tinggi di antara para juru api yang menjalaninya.[29]
Uap buangan yang meninggalkan mesin bolak-balik dimasukkan ke turbin di buritan. Dari sana, uap diteruskan ke kondensator sehingga bisa diembunkan menjadi air dan dipakai lagi.[30] Mesin-mesin terpasang langsung dengan tangkai panjang yang mengendalikan baling-baling. Ada tiga baling-baling, satu untuk setiap mesin; baling-baling terluar (atau samping) adalah yang terbesar, masing-masing terdiri dari tiga bilah aloi mangan-perunggu dengan diameter total 235 kaki (72 m).[26] Baling-baling tengah berdiameter 17 kaki (5.2 m),[31] dapat dihentikan, namun tidak dapat dimundurkan.
Pembangkit listrik Titanic mampu menghasilkan lebih banyak listrik ketimbang satu pembangkit listrik kota pada masa itu.[32] Buritan mesin turbin terisi oleh empat generator listrik tenaga uap 400kW yang digunakan untuk menyediakan tenaga listrik kapal, plus dua generator pembantu 30 kW untuk keperluan darurat.[33] Tempatnya ada di belakang kapal, sehingga masih sempat beroperasi sampai menit-menit terakhir sebelum kapal tenggelam.[34]

Fasilitas teknis

Kemudi Titanic lumayan besar – setinggi 78 kaki 8 inches (24.0 m) dan sepanjang 15 kaki 3 inches (4.6 m), berbobot lebih dari 100 ton – sehingga dibutuhkan mesin kemudi untuk menggerakkannya. Dua mesin kemudi berkekuatan uap dipasang meski hanya satu yang dipakai, sementara satu lagi sebagai cadangan. Keduanya terhubung dengan tangkai kemudi pendek melalui per keras untuk mengisolasi mesin kemudi dari kejutan apapun akibat laut keras atau perubahan arah yang cepat.[35] Sebagai pilihan terakhir, tangkai kemudi dapat dipindahkan dengan tali yang terhubung dengan dua putaran jangkar uap.[36] Putaran jangkar ini juga digunakan untuk menaikkan dan menurunkan lima jangkar kapal (satu di kiri, satu kanan, satu tengah, dan dua jangkar lengkung).[36]
Kapal ini memiliki sistem pengaliran airnya sendiri, yang mampu memanaskan dan memompa air ke seluruh kapal melalui jaringan pipa dan katup yang rumit. Suplai air utama dibawa ke kapal ketika Titanic masih di pelabuhan, tetapi dalam keadaan darurat pun kapal mampu menyuling air tawar dari laut, meski ini bukan proses langsung karena saluran distilasi mudah tersumbat endapan garam. Serangkaian saluran terisolasi mengangkut udara hangat ke seluruh kapal yang berasal dari kipas listrik, dan kabin Kelas Satu dilengkapi pemanas listriknya sendiri.[32]
Titanic dilengkapi dengan telegraf nirkabel jeda percik berkekuatan 1,5 kW yang dipasang di ruang radio Geladak Anjungan. Satu set dipakai untuk mengirim pesan dan satu lagi, di bilik kedap suara, untuk menerima pesan. Sinyal dipancarkan melalui dua kabel paralel yang dibentangkan di antara menara-menara kapal, 50 kaki (15 m) di atas cerobong untuk menghindari asap korosifnya.[32] Sistem ini adalah salah satu yang tercanggih di dunia dengan jangkauan sampai 1.000 mil.[37] Sistem ini dimiliki dan dioperasikan oleh Marconi Company, bukan White Star Line, dan hanya diperuntukkan kepada penumpang, bukan operasi kapal. Fungsi dua operator nirkabel – keduanya karyawan Marconi – adalah mengoperasikan layanan pengiriman dan penerimaan telegram nirkabel 24 jam untuk penumpang. Mereka juga meneruskan pesan profesional kapal seperti laporan cuaca dan peringatan es.[38]

Fasilitas penumpang

Fasilitas penumpang di Titanic dibangun semewah mungkin. Kapal ini dapat menampung 739 penumpang Kelas Satu, 674 Kelas Dua dan 1.026 Kelas Tiga. Para awaknya berjumlah sekitar 900 orang; secara keseluruhan, kapal ini dapat menampung 3.339 orang. Desain interiornya jauh berbeda dari kapal-kapal penumpang lainnya, yang umumnya didekorasi dengan gaya rumah puri atau rumah pedesaan Inggris. Titanic dirancang dengan gaya yang lebih ringan seperti hotel-hotel kontemporer kelas atas – Ritz Hotel menjadi rujukannya – dengan kabin Kelas Satu dibangun dengan gaya Kekaisaran.[39] Berabgai gaya dekoratif lain, mulai dari Renaisans sampai gaya Victoria, dipakai untuk mendekorasi kabin dan ruang umum di kawasan Kelas Satu dan Dua. Tujuannya adalah memberi kesan bahwa penumpang berada di hotel terapung alih-alih kapal penumpang; sebagaimana kesaksian seorang penumpang, ketika memasuki interior kapal, seseorang akan merasa "kehilangan perasaan bahwa kita berada di atas kapal, dan seolah-olah memasuki aula rumah besar di pesisir pantai."[40]
Penumpang dapat memanfaatkan sistem telepon kapal, perpustakaan pinjam buku, dan salon besar.[41] Kelas Satu dilengkapi kolam renang, gimnasium, lapangan squash, pemandian Turki, pemandian listrik dan kafe teras.[40] Ruang umum Kelas Satu dilengkapi panel kayu ukiran, furnitur mahal dan dekorasi lainnya, sementara ruang umum Kelas Tiga dilengkapi panel kayu pinus dan furnitur jati.[42] Café Parisien terletak di teras terbuka yang dilengkapi dekorasi trellis dan menawarkan haute cuisine Perancis terbaik untuk penumpang Kelas Satu.[43]
Fasilitas penumpang Kelas Satu Titanic [44]
Gimnasium Titanic di Boat Deck, yang dilengkapi dengan mesin-mesin olahraga terkini.
Gimnasium Titanic di Boat Deck, yang dilengkapi dengan mesin-mesin olahraga terkini.
Grand Staircase Titanic yang ternama dan memberikan akses antara Boat Deck dan D Deck.
Grand Staircase Titanic yang ternama dan memberikan akses antara Boat Deck dan D Deck.
Restoran A La Carte di B Deck, dioperasikan sebagai konsesi oleh seorang koki kelahiran Italia, Gaspare Gatti.
Restoran A La Carte di B Deck, dioperasikan sebagai konsesi oleh seorang koki kelahiran Italia, Gaspare Gatti.
Penumpang Kelas Tiga tidak diperlakukan semewah Kelas Satu, tetapi kondisi mereka masih lebih baik daripada penumpang Kelas Tiga di kapal lain pada masa itu. Mereka ditempatkan di kabin tidur berkapasitas dua dan sepuluh orang, dengan 164 kamar terbuka tambahan untuk para pemuda di G Deck.[45] Dalam hal fasilitas mandi dan cuci, mereka lebih terbatas ketimbang penumpang Kelas Satu atau Dua. Mereka hanya diberi dua kamar mandi, satu untuk pria dan satu lagi wanita, untuk keseluruhan Kelas Tiga. Mereka harus mencuci pakaian mereka sendiri di ruang cuci yang dilengkapi bak besi, sementara penumpang Kelas Satu dan Dua dapat memakai jasa binatu kapal.[46] Ada pula batasan terhadap kawasan kapal yang boleh dimasuki; ketiga kelas penumpang terpisah satu sama lain, dan meski teorinya penumpang kelas teratas dapat mengunjungi kawasan kelas terendah, kenyataannya mereka tidak diperbolehkan melakukannya demi menghormati kebiasaan sosial pada masa itu.[47] Pemisahan kelas terlihat pada perlengkapan kapal, toilet Kelas Tiga terbuat dari besi, sementara Kelas Dua porselen dan Kelas Satu marmer.[48]
Fasilitas kenyamanan disediakan untuk ketiga kelas untuk menghabiskan waktu. Selain memanfaatkan fasilitas dalam ruangan seperti perpustakaan, ruang cerutu dan gimnasium, penumpang juga perlu bersosialisasi di dek terbuka, jalan-jalan atau menenangkan diri di kursi dek atau kursi kayu. Sebuah daftar penumpang diterbitkan sebelum pelayaran untuk menginformasikan kepada publik mana saja anggota keluarga berpengaruh yang naik kapal, dan sudah umum bagi ibu-ibu yang ambisius untuk memanfaatkan daftar ini untuk mengenali orang-orang kaya yang dapat diperkenalkan kepada anaknya sepanjang pelayaran.[47]
Salah satu fitur paling menarik di Titanic adalah tangga Kelas Satunya, yang dikenal sebagai Grand Staircase atau Grand Stairway. Tangga ini menuruni lima dek kapal, dari Boat Deck ke Reception Room yang bergabung dengan First Class Dining Saloon di D Deck.[49] Ruangan ini beratapkan kubah besi tempa dan kaca yang menyalurkan cahaya alami. Setiap ujung bawah tangga mengarah ke aula pintu masuk yang diterangi lampu berlapiskan emas.[50] Di ujung atas tangga terdapat panel kayu ukiran besar berisikan jam ditambah kata-kata "Honour and Glory Crowning Time" yang mengitari jam.[49] Grand Staircase hancur dalam peristiwa tenggelamnya Titanic dan sekarang menjadi lubang di kapal yang dipakai para penjelajah modern untuk mengakses dek bawah.[51] Selama perekaman Titanic karya James Cameron pada tahun 1997, replika Grand Staircase-nya tercabut dari fondasinya akibat desakan air yang masuk dengan deras di studio. Diasumsikan bahwa pada peristiwa aslinya, seluruh Grand Staircase terangkat ke atas melalui kubah ruangan.[52]

Surat dan kargo

Meski Titanic adalah kapal penumpang, kapal ini juga mengangkut sejumlah kargo. Gelar Royal Mail Ship-nya menandakan bahwa Titanic mengangkut surat di bawah kontrak dengan Royal Mail (dan juga United States Post Office Department). 26.800 kaki kubik (760 m3) ruang kargonya dikhususkan untuk penyimpanan surat, parsel dan mata uang (emas lantak, koin, dan barang berharga lain). Sea Post Office di G Deck dikelola oleh lima petugas pos, tiga dari Amerika Serikat dan dua dari Britania Raya, yang bekerja tiga belas jam sehari, tujuh hari seminggu, menyortir hingga 60.000 surat/barang setiap harinya.[53]
Penumpang kapal turut membawa bagasi dalam jumlah besar; 19.455 kaki kubik (550.9 m3) ruang kargo dipenuhi bagasi kelas satu dan dua. Selain itu, ada berbagai macam kargo reguler, mulai dari furnitur hingga bahan pangan dan bahkan mobil motor.[53] Meski muncul beberapa mitos bahwa kargo pada pelayaran perdana Titanic sangat melimpah; tidak ditemukan emas, mineral eksotis atau intan, dan salah satu barang terkenal yang terjebak di bangkai kapal, salinan Rubaiyat of Omar Khayyam, hanya bernilai £405 (£29.717 hari ini) – cuma barang-barang legenda.[54] Titanic dilengkapi dengan delapan takal listrik, empat derek listrik dan tiga derek uap untuk mengangkat kargo dan bagasi ke dalam dan luar ruang kargo. Diperkirakan bahwa kapal ini memakai 415 ton batu bara di Southampton untuk menghasilkan uap untuk mengoperasikan derek kargo, penghangat dan penerangan.[55]

Sekoci

Sebuah sekoci lipat dengan sisi kanvasnya
Titanic mengangkut 20 sekoci secara keseluruhan: 14 sekoci kayu standar Harland and Wolff dengan kapasitas masing-masing 65 orang dan empat sekoci "lipat" Englehardt (diberi tanda A sampai D) dengan kapasitas masing-masing 47 orang. Selain itu, kapal ini memiliki dua kapal dayung dengan kapasitas masing-masing 40 orang.[56][b] Semua sekoci disimpan rapat di Boat Deck dan, kecuali sekoci lipat A dan B, terhubung dengan derek kapal melalui tali. Sekoci di sisi kanan diberi nomor ganjil 1–15 dari haluan ke buritan, sementara sekoci di sisi kiri diberi nomor genap 2–16 dari haluan ke buritan. Kedua kapal dayung dibiarkan berayun dan tergantung di derek agar dapat segera dipakai, sementara sekoci lipat C dan D disimpan di Boat Deck (terhubung dengan derek) langsung di dalam sekoci 1 dan 2. A dan B disimpan di atap kantor perwira, di masing-masing sisi cerobong nomor 1. Tidak ada derek untuk menurunkannya dan bobotnya akan sangat menantang ketika diluncurkan.[57] Setiap sekoci berisikan makanan, air, selimut, dan pelampung cadangan. Tali penyelamat di sisi sekoci memungkinkan penumpang menyelamatkan korban lainnya dari air jika perlu.
Titanic memiliki 16 set derek kapal, masing-masing mampu menangani 4 sekoci. Ini memberikan Titanic kemampuan untuk mengangkut 64 sekoci kayu[58] yang muat untuk 4.000 orang – melebihi kapasitas kapal aslinya. Sayangnya, White Star Line memutuskan agar 16 sekoci kayu dan empat sekoci lipat yang diangkut, yang mampu menampung 1.178 orang, sepertiga kapasitas total Titanic. Pada waktu itu, regulasi Board of Trade mensyaratkan kapal-kapal Britania berbobot lebih dari 10.000 ton membawa 16 sekoci dengan kapasitas 990 penumpang.[56] Meski begitu, White Star Line menyediakan akomodasi sekoci lebih banyak daripada yang disyaratkan secara hukum.[59][c]

Pembangunan dan persiapan

Konstruksi, peluncuran dan pemasangan

Foto alat peluncur raksasa dengan haluan kapal besar yang sudah dicat dengan warna gelap.
Titanic sebelum peluncurannya.
Ukuran Titanic dan kapal-kapal saudaranya yang raksasa memberikan tantangan teknik tersendiri bagi Harland and Wolff; belum pernah ada pembangun kapal yang berhasil membangun kapal sebesar ini. Kapal-kapal ini dibangun di Queen's Island, sekarang bernama Titanic Quarter, di Belfast Harbour. Harland and Wolff harus menghancurkan tiga seluncur kapal dan membangun dua seluncur baru, yang merupakan seluncur terbesar yang pernah dibangun pada masa itu, untuk mengakomodasi kapal-kapal raksasa.[6]
Pembangunannya difasilitasi oleh alat peluncur raksasa yang dibangun oleh Sir William Arrol & Co., sebuah firma asal Skotlandia yang pernah membangun Forth Bridge dan Tower Bridge London. Arrol Gantry berdiri setinggi 228 kaki (69 m), dengan lebar 270 kaki (82 m) dan panjang 840 kaki (260 m), serta berbobot lebih dari 6.000 ton. Alat peluncur ini terdiri dari beberapa takal bergerak. Sebuah takal apung yang mampu mengangkut bobot 200 ton didatangkan langsung dari Jerman.[61]
Pembangunan Titanic dan Olympic dilakukan secara bersamaan dan terpisah, dengan lambung Olympic pertama diletakkan pada 16 Desember 1908 dan lambung Titanic pada tanggal 31 Maret 1909.[11] Kedua kapal dibangun selama 26 bulan dan melalui proses konstruksi yang sama. Kapal-kapal tersebut dirancang sebagai sebuah box girder apung raksasa, dengan lunasnya yang berperan sebagai tulang punggung dan kerangka lambungnya sebagai tulang dada. Di dasar kapal, sebuah penopang ganda sedalam 5 kaki 3 inches (1.6 m) menopang 300 kerangka, masing-masing terpisah sejauh 24 inci (61 cm) dan 36 inci (91 cm) dan sepanjang 66 kaki (20 m). Penopang ini berakhir di dek anjungan (B Deck) dan dilapisi pelat baja yang membentuk kulit terluar kapal.[62]
2.000 pelat lambungnya terdiri dari bagian-bagian baja gulung, kebanyakan selebar 6 kaki (1.8 m) dan sepanjang 30 kaki (9.1 m) dan berbobot antara 2,5 dan 3 ton.[63] Ketebalannya bervariasi mulai 15 inci (38 cm) hingga 1 inci (2.5 cm).[64] Pelat-pelat tersebut dipasang dengan gaya klinker (tumpang tindih) dari lunas sampai lambungnya. Di atas bagian itu, pelat dipasang dengan gaya "luar dalam", yang berarti pemasangan pelat pelatnya dipasang berbentuk pita (disebut "pelat lurus dalam") dengan celah yang ditutup oleh "pelat lurus luar", sehingga tumpang tindih di pinggirannya. Pengelasan baja masih terdengar baru sehingga struktur ini perlu digabung dengan lebih dari tiga juta paku sumbat besi dan baja yang keseluruhannya berbobot lebih dari 1.200 ton. Paku sumbat ini dipasang menggunakan mesin hidrolik atau dipaku dengan tangan.[65]
Pemandangan Titanic di dermaga pemasangan setelah peluncurannya; tahap akhir konstruksi dan pemasangannya dilakukan di sini.
Interior kapal kelas Olympic dibagi menjadi enam belas kompartemen utama yang dibagi menjadi lima belas sekat yang membentang di atas garis air. Sebelas pintu kedap air yang menutup secara vertikal dapat mengunci kompartemen jika terjadi keadaan darurat".[64] Geladak terbuka kapal terbuat dari kayu pinus dan jati, sementara langit-langit kapal dilapisi butiran gabus bercat untuk mencegah kondensasi.[66] Superstruktur ini terdiri dari dua geladak, Promenade Deck dan Boat Deck, yang memiliki panjang 500 kaki (150 m). Kedua geladak berisikan kantor perwira, gimnasium, ruang umum dan kabin kelas satu, ditambah anjungan dan ruang kemudi. Sekoci kapal ditempatkan di Boat Deck, dek paling atas.[13] Di atas geladak terdapat empat cerobong, meski hanya tiga yang berfungsi - cerobong terakhir cuma hiasan untuk estetika saja – dan dua menara, masing-masing setinggi 155 kaki (47 m), yang menopang derek untuk pemuatan kargo. Sebuah kabel komunikasi nirkabel dibentangkan di antara kedua menara.[67]
Pembangunan kapal ini begitu sulit dan berbahaya. Untuk 15.000 orang yang bekerja di Harland and Wolff pada saat itu,[68] pencegahan keselamatan dirancang sebagus mungkin; banyak pekerjaan berbahaya yang dilakukan tanpa peralatan keselamatan seperti topi atau pelindung tangan pada mesin. Akibatnya, timbul korban tewas dan luka-luka. Selama pembangunan Titanic, tercatat 246 kasus luka-luka, 28 di antaranya "parah", seperti lengan terluka karena mesin atau kaki yang tertimpa bagian-bagian baja yang jatuh. Enam orang meninggal di dalam kapal ketika sedang dibangun dan dipasang dan dua lainnya meninggal di bengkel dan gudang galangan kapal.[69] Tepat sebelum peluncuran, seorang pekerja tewas ketika sebilah kayu menimpanya.[70]
Titanic diluncurkan pada pukul 12:15 tanggal 31 Mei 1911 di hadapan Lord Pirrie, J. Pierpoint Morgan dan J. Bruce Ismay dan 100.000 penonton.[71] 22 ton sabun dan lemak disebarkan di seluncuran untuk memudahkan peluncuran kapal ke Sungai Lagan.[70] Sesuai kebijakan lama White Star Line, kapal ini tidak diberi nama secara resmi maupun dibaptis dengan sampanye.[71] Kapal ini ditarik ke dermaga pemasangan, tempat mesin, cerobong dan superstrukturnya dipasang dan interiornya dilengkapi selama satu tahun selanjutnya.[72]
Meski Titanic tampak identik dengan kapal saudara sebelumnya, Olympic, sejumlah perubahan dilakukan untuk membedakan kedua kapal. Perubahan yang paling mudah dikenali adalah bahwa Titanic (dan kapal saudara selanjutnya, Britannic) memilikii bingkai baja dengan jendela geser di sepanjang setengah depan teras A Deck. Jendela ini dipasang pada menit-menit terakhir atas permintaan pribadi Bruce Ismay, dan bertujuan untuk memberi perlindungan tambahan bagi penumpang kelas satu.[73] Perubahan-perubahan ini menjadikan Titanic secara marjinal lebih berat ketimbang kapal saudaranya, dan dapat mengklaim diri sebagai kapal terbesar yang berlayar pada masa itu. Pekerjaan ini lebih lama daripada yang diharapkan akibat perubahan rancangan yang diperintahkan Ismay dan penundaan sementara karena perbaikan Olympic, yang mengalami tabrakan pada September 1911. Jika Titanic sudah rampung dari dulu, kapal ini nantinya mungkin tidak menabrak gunung es.[70]

Pelayaran uji coba

Titanic meninggalkan Belfast untuk pelayaran uji cobanya pada tanggal 2 April 1912
Pelayaran uji coba Titanic dimulai pukul 06.00 pada hari Senin, 2 April 1912, dua hari setelah pemasangannya selesai dan delapan hari sebelum meninggalkan Southampton untuk pelayaran perdananya.[74] Ujicoba ini ditunda selama satu hari karena cuaca buruk, namun pada Senin pagi cuaca cerah dan sejuk.[75] Kapal ini mengangkut 78 juru api, tukang minyak, dan 41 awak kapal. Tidak ada staf domestik di kapal tersebut. Perwakilan dari berbagai perusahaan ikut dalam uji coba Titanic, Thomas Andrews dan Edward Wilding dari Harland and Wolff dan Harold A. Sanderson dari IMM. Bruce Ismay dan Lord Pirrie terlalu sakit untuk hadir. Jack Phillips dan Harold Bride bertugas sebagai operator radio, dan melaukan penyesuaian terhadap alat-alat Marconi. Francis Carruthers, seorang pengawas dari Board of Trade, juga hadir untuk melihat apakah semuanya berjalan dengan baik dan apakah kapal ini layak mengangkut penumpang.[76]
Pelayaran uji cobanya terdiri dari serangkaian tes terhadap karakteristik kendalinya yang pertama dilaksanakan di Belfast Lough dan perairan terbuka Laut Irlandia. Selama dua belas jam, Titanic dioperasikan dengan beragam kecepatan, kemampuan beloknya diuji dan "berhenti mendadak" dilakukan dengan pemunduran mesin dari mode maju penuh hingga mundur penuh, sehingga kapal ini berhenti pada jarak 850 yd (777 m) atau 3 menit 15 detik.[77] Kapal ini menempuh jarak sekitar 80 mil laut (92 mi; 150 km), dengan rata-rata 18 knot (21 mph; 33 km/jam) dan mencapai kecepatan maksimum di bawah 21 knot (24 mph; 39 km/jam).[78] Ketika pulang ke Belfast pada sekitar pukul 19.00, pengawas Board of Trade menandatangani "Agreement and Account of Voyages and Crew" yang sah selama dua belas bulan dan menetapkan kapal ini layak berlayar di laut. Satu jam kemudian, Titanic kembali meninggalkan Belfast – untuk terakhir kalinya – untuk berlayar ke Southampton sejauh 570 mil laut (660 mi; 1,060 km). Setelah berlayar selama 28 jam, kapal tiba sekitar tengah malam 4 April dan ditarik ke Berth 44 di pelabuhan Southampton, bersiap untuk kedatangan penumpangnya dan seluruh awaknya.[79]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar